Rabu, 29 Mei 2013

Perajin Warangka Keris



Mempertahankan tradisi warisan lelulur ternyata tidak akan membuat seseorang semakin tersingkir.
Setidaknya, hal ini seperti dijalano Sugeng warga RT 02, RW 02, Desa Srandil, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo. Pria berusia 55 tahun ini, justru semakin diperhitungan kalangan kelas menengah ke atas dan para pejabat dari setingkat daerah Ponorogo dan sekitarnya hingga para pejabat yang memiliki jabatan di pemerintah pusat dengan menekuni keahlian warisan leluhurnya sebagai perajin warangka keris.

Bahkan, lelaki berpostur tubuh tinggi ini, pernah dikontrak mantan Wakil Presiden (Wapres) Adam Malik selama hampir 10 tahun untuk membuatka warangka keris dan berbagai pusaka lainnya di Jakarta.

Termasuk membuatkan warangka keris sanak saudara dan kerabat mantan Wapres itu. Hingga kini, nama Sugeng tetap eksis dan masih menjadi jujugan kalangan pejabat dari Ponorogo, Madiun, Magetan, Ngawi, Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Solo dan Jakarta yang ingin membuat warangka keris mereka semakin memiliki aura.

Selama ini, kalangan pecinta dan kolektor pusaka tetap mengandalkan dan mengagumi warangka hasil besutan bapak 2 anak 1 cucu ini karena hasil karyanya tergolong sangat halus dan baik.

Apalagi, selama ini selalu menggunakan kayu, bukan kayu sembarang. Pihaknya hanya menggunakan kayu Cendana, Timoho (lamen), dan kayu Trembolo untuk menjaga kualitas hasil pekerjaannya.

Sugeng menceritakan, awalnya dirinya dikenal sebagai penjamas pusaka. Ilmu menjamas ini diperoleh secara turun temurun dari kakek-kakeknya terdahulu. Jika dihitung, Sugeng merupakan keturun ke 7 dari ahli menjamas keluarganya. Sugeng menemuki kepiawaiannya ini, sejak Tahun 1975.

Saat itu, Sugeng menekuni keahliannya sebagai penjamas pusaka dan perajin Warangka pusaka (sarung pusaka)

Karena tidak puas dengan kemampuannya, Tahun 1979, Sugeng belajar lagi ilmu warisan kakeknya tersebut ke Solo dan para perajin Keraton Kartosuro. Namun, karena hasil karyanya yang menakjubkan, di akhir Tahun 1979, dia dikontrak mantan Wakil Presiden, Adam malik hingga Tahun 1987 untuk tetap tinggal di Jakarta dan mengurusi semua pusaka milik mantan wapres ini dan keluarga besarnya.

"Keahlian saya ini merupakan ilmu turun temurun dari kakek-kakek saya. Saya sendiri merupakan keturunan ketujuh yang tetap menekuni usaha warisan leluhur ini. Saat dikontrak Pak Adam Malik, saya diminta tinggal di Jakarta hanya untuk membuat warangka semua pusaka miliknya dan kerabatnya sekaligus menjamasnya," terangnya

Untuk menjaga kualitas hasil kerajinan tangannya, Sugeng sangat memperhatikan bahan dasar dalam membuat warangka pusaka itu. Selam ini, Sugeng tidak mau membuat warangka pusaka yang bahannya dari kayu sembarangan. Dia selama ini hanya mengandalkan 3 kayu warisan leluhurnya. Alsannya, ketiga kayu itu, sesuai pesanan leluhurnya secara langsung dapat menambah aura pusaka.

"Sejak dulu saya tidak pernah menggunakan bahan kayu sembarang. Saya hanya menggunakan kayu Cendana, Kayu Timoho (Lamen) yakni kayu yang berwarna hitam putih, dan kayu Trembalo. Kayu-kayu ini tidak ada disembarang tempat. Jika kayu Cendana di Ponorogo ada, namun kayu Timoho dipesan dari Lumajang dan Bojonegoro dan kayu Trembalo dari Luar Jawa," urainya.

Sedangkan terkait kelangkaan kayu yang dipakai bahan karyanya tersebut, Sugeng mengaku sudah memiliki stok hingga lima tahun ke depan. Pasalnya, sejak awal dia sudah mengantisipasi adanya kelangkaan bahan baku itu.

"Memang sudah sulit mencari ketiga jenis kayu jenis tadi, namun saya sudah punya stok cukup hingga lima tahun mendatang," katanya.

Hingga kini, Sugeng tidak hanya meyalani para penggemar dan kolektor pusaka dari kalangan warga umum, akan tetetapi tetap eksi di kalangan pejabat dari setingkat pejabat Pemerintah Kabupaten hingga Pemerintah Pusat.

"Sampai sekarang yang pesan warangka ke sini kebanyakan pejabat Ponorogo dan pejabat pemerintah pusat, Jakarta. Diantaranya, Pak Wiranto, Sekjen Gerindra juga memesan warangka pusaka ke kami. Kalau satu per satu disebutkan saya tidak hafal," paparnya.

Sedangkan mengenai soal harga, warangka hasil kerajinan tangan Sugeng ini harganya lain dari karya perajin lainnya. Pasalnya, Sugeng memperhatikan mutu dan kualitas hasil karyanya itu.

"Untuk membuat satu warangka membutuh waktu selama 3 sampai 4 hari. Membuat warangka komplit mulai dari pegangan hingga sarung yang sederhana minimal seharga Rp 1,8 juta. Contoh lainnya, misalnya milik sesepuh Warok dan Golkar Ponorogo, Mbah Tobron Torejo meghabiskan Rp 10 juta karena beliau minta ada pernik intan dan emasnya," pungkasnya.

Sementara, salah seorang pejabat Ponorogo yang selama ini merasa puas dengan pesanan warangka hasil kerajinan tangan Sugeng mengungkapkan warangka hasil buatan Sugeng selain bagus, juga selalu pas digunakan di pusaka baik jenis keris, tombak, maupun pedang serta menambah aura magis di pusaka itu.

Selasa, 28 Mei 2013

KERIS KYAI SENGKELAT

Kyai Sengkelat adalah keris pusaka luk tiga belas yang diciptakan pada jaman Majapahit (1466 – 1478), yaitu pada masa pemerintahan Prabu Kertabhumi (Brawijaya V) karya Mpu Supa Mandagri.
Mpu Supa adalah salah satu santri Sunan Ampel. Konon bahan untuk membuat Kyai Sengkelat adalah cis, sebuah besi runcing untuk menggiring onta. Konon, besi itu didapat Sunan Ampel ketika sedang bermunajat. Ketika ditanya besi itu berasal darimana, dijawab lah bahwa besi itu milik Muhammad saw. Maka diberikan lah besi itu kepada Mpu Supa untuk dibuat menjadi sebilah pedang.


Namun sang mpu merasa sayang jika besi tosan aji ini dijadikan pedang, maka dibuatlah menjadi sebilah keris luk tiga belas dan diberi nama Kyai Sengkelat. Setelah selesai, diserahkannya kepada Sunan Ampel. Sang Sunan menjadi kecewa karena tidak sesuai dengan apa yang dikehendakinya. Menurutnya, keris merupakan budaya Jawa yang berbau Hindu, seharusnya besi itu dijadikan pedang yang lebih cocok dengan budaya Arab, tempat asal agama Islam. Maka oleh Sunan Ampel disarankan agar Kyai Sengkelat diserahkan kepada Prabu Brawijaya V.
Ketika Prabu Brawijaya V menerima keris tersebut, sang Prabu menjadi sangat kagum akan kehebatan keris Kyai Sengkelat. Dan akhirnya keris tersebut menjadi salah satu piyandel (maskot) kerajaan dan diberi gelar Kangjeng Kyai Ageng Puworo, mempunyai tempat khusus dalam gudang pusaka keraton.
Pusaka baru itu menjadi sangat terkenal sehingga menarik perhatian Adipati Blambangan. Adipati ini memerintahkan orang kepercayaannya untuk mencuri pusaka tersebut demi kejayaan Blambangan, dan berhasil. Mpu Supa yang telah mengabdi pada kerajaan Majapahit diberi tugas untuk mencari dan membawa kembali pusaka tersebut ke Majapahit. Dalam menjalankan tugasnya, sang Mpu menyamar sebagai seorang pandai besi yang membuat berbagai alat pertanian dan mengganti namanya menjadi Ki Nambang.


Di samping pandai membuat alat pertanian, beliau juga membuat tombak, pedang dan keris yang kemudian dipamerkan di tempat-tempat keramaian, di Blambangan. Seketika pameran tersebut memancing perhatian banyak orang. Banyak sekali pesanan datang dari para pejabat kadipaten Blambangan. Termasuk patih Adipati Blambangan yang memesan Keris Carangsoka.
Akhirnya sang adipati Blambangan menyaksikan keris ciptaan Ki Nambang, sebilah keris Carangsoka yang sangat bagus dan ampuh. Ketika ditusukkan ke pohon pisang, seketika itu seluruh daun pisang menjadi layu. Karenanya sang mpu di undang untuk menghadap ke kadipaten guna membicarakan suatu hal yang rahasia dengan alasan agar percikan bunga api besi bahan kerisnya, tidak menjadi bencana bagi rakyat Blambangan.


Ternyata setelah Ki Nambang datang menghadap, didapatnya tugas untuk membuat “putran” atau tiruan Kangjeng Kyai Puworo (Keris Sengkelat). Ki Nambang dengan siasatnya meminta disediakan perahu untuk membuat tiruan Kyai Sengkelat dengan alasan percikan bunga api besi bahan kerisnya tidak menimbulkan bencana bagi rakyat Blambangan.
Singkat cerita, akhirnya rencana mendapatkan kembali keris pusaka Majapahit itu berhasil tanpa harus menimbulkan kecurigaan dan pertumpahan darah. Malah Ki Nambang akhirnya dianugerahi seorang putri kadipaten yang bernama Dewi Lara Upas, adik dari Adipati Blambangan itu sendiri. Serta mendapatkan gelar kebangsawanan sebagai Kangjeng Pangeran berikut tanah perdikan di Desa Pitrang. Maka namanya pun berubah menjadi Kangjeng Pangeran Pitrang yang bekerja sebagai mpu kadipaten Blambangan.


Sang Mpu yang berhasil melaksanakan tugas selalu mencari cara agar dapat kembali ke Majapahit. Ketika kesempatan itu tiba maka beliau pun segera kembali ke Majapahit dan meninggalkan istrinya yang sedang hamil. Sebelum pergi, beliau meninggalkan pesan kepada sang istri bahwa kelak jika anak mereka lahir laki-laki agar diberi nama Joko Suro, serta meninggalkan besi bahan membuat keris.


Lima belas tahun kemudian setelah Mpu Pitrang meninggalkan Blambangan, datang lah seorang pemuda yang mengaku sebagai anak mpu Supa. Ketika ditanya, ia mengaku bernama Joko Suro. Mpu meminta bukti berupa besi bahan membuat keris. Namun ketika diserahkan oleh Joko Suro, besi bahan itu telah menjadi sebilah keris. Ternyata selama dalam perjalanan mencari ayahandanya, besi itu oleh Joko Suro dipijit-pijit dan ditarik olehnya hingga menjadi sebilah keris kecil. Maka keris itu pun dinamakan Keris Kyai Bethok yang mempunyai keampuhan menyingkirkan niat jahat.

KERIS KAMARDIKAN


Karya Kontemporer yang juga sudah ada pada jaman dahulu.
Ki: KK. Satriyo Gugah karya KRT. Toni Junus Kartika Adinagoro; Ka: Putran keris Tua jaman Kedfiri.


Keris (tangguh tua) pada waktu itu sudah mengalami prosesi ‘intelektualism’, ‘estetik’ dan ‘orisinalitas ide’ kita sebut I-E-O, seperti pada penciptaan awal para empu pada lahirnya dhapur babon/pancer dan jenis-jenis pamor yang kemudian memiliki istlahnya masing-masing. Maka, bukanlah hal yang mengada-ada jika keris Kamardikan akan memenuhi prosesi tersebut diatas dengan latar kultural yang modern sebagai ekspresi para seniman keris, bahkan mungkin akan berbicara hingga pada tataran kritik sosial - politik.

Jika ada ruang publik yang tersedia untuk kawula perkerisan, maka ajang yang perlu digelar adalah dengan menguji karya berkonsep pada keris Kamardikan kontemporer yang memenuhi bobot I-E-O. Sebagai implementasi pelestarian menuju nilai ’universal’ dari sebuah karya seni (keris) untuk tidak hanya dikhusyuki oleh komunitas yang kecil terbatas, melainkan dapat dinikmati oleh banyak orang. Maka pada perilaku penghayatan maguru alam dan kehidupan, serta perenungan religius keris otomatis akan mendudukkan kembali adanya pesan spiritual yang esensial dalam dunia modern sebagai manusia modern. Bukan keris dalam kungkungan “klenik” dan gaib yang sensasional.
'Keris’ pada saatnya, dapat berbicara kepada awam baik melalui ‘rupa’ maupun kedalaman konsepnya (bukan tuahnya) tanpa pengetahuan yang ekslusif.

SELAMAT DATANG

 SELAMAT DATANG DISANGGAR SAROTAMA

Anda memasuki pendalaman pemahaman "Keris" dan Tosan Aji untuk ikut melestarikan salah satu budaya yang spesifik di dunia ini. Berawal dari Jawa, kita menapaki kearifan lokal se Nusantara.

Kini "Keris" telah menjadi warisan dunia, oleh sebab nilai intangible yang menyertainya, antara lain: Aspek Kesejarahan, Aspek Fungsi Sosial, Aspek Tradisi, Aspek Filosofi dan Simbolisme, Aspek Mistik, Aspek Seni dan Aspek Teknologi.

Sudah saatnya sebagai ilmu budaya untuk memulai "Krisologi" yang akan terus berkembang dan perlu disajikan untuk khalayak umum sedunia. Marilah kita apresiasi kearifan lokal bangsa, sebagai warisan budaya yang tak mengalami kepunahannya.

Salam Budaya


Gandaning puspito